I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Oseanografi
terdiri dari dua kata: oceanos yang berarti laut dan graphos yang
berarti gambaran atau deskripsi (bahasa Yunani). Secara sederhana kita dapat
mengartikan oseanografi sebagai gambaran atau deskripsi tentang laut. Dalam
bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan
penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai laut dan segala fenomenanya. Laut
sendiri adalah bagian dari hidrosfer. Seperti kita ketahui bahwa bumi terdiri
dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian cair yang disebut hidrosfer dan
bagian gas yang disebut atmosfer. Sementara itu bagian yang berkaitan dengan
sistem ekologi seluruh makhluk hidup penghuni planet Bumi dikelompokkan ke
dalam biosfer.
Sebelum
melangkah pada uraian yang lebih jauh, mungkin ada di antara anda yang
bertanya: "Apa bedanya oseanografi dan oseanologi?"
Kalau kita melihat pada beberapa ensiklopedia yang ada, oseanografi dan
oseanologi adalah dua hal yang sama (sinonim). Namun, dari beberapa sumber lain
dikatakan bahwa ada perbedaan mendasar yang membedakan antara oseanografi dan
oseanologi. Oseanologi terdiri dari dua kata (dalam bahasa Yunani) yaitu oceanos
(laut) dan logos (ilmu) yang secara sederhana dapat diartikan sebagai
ilmu yang mempelajari tentang laut. Dalam arti yang lebih lengkap, oseanologi
adalah studi ilmiah mengenai laut dengan cara menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan
tradisional seperti fisika, kimia, matematika, dll ke dalam segala aspek
mengenai laut. Anda tinggal pilih, mau setuju dengan pendapat pertama atau
kedua.
Secara umum,
oseanografi dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) bidang ilmu utama yaitu:
geologi oseanografi yang mempelajari lantai samudera atau litosfer di bawah
laut; fisika oseanografi yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti
arus, gelombang, pasang surut dan temperatur air laut; kimia oseanografi yang
mempelajari masalah-masalah kimiawi air laut dan yang terakhir biologi
oseanografi yang mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan
fauna di laut.
Studi
menyeluruh (komprehensif) mengenai laut dimulai pertama kali dengan
dilakukannya ekspedisi Challenger (1872-1876) yang dipimpin oleh
naturalis bernama C.W. Thomson (berkebangsaan Skotlandia) dan John Murray
(berkebangsaan Kanada). Istilah Oseanografi sendiri digunakan oleh mereka dalam
laporan yang diedit oleh Murray. Murray selanjutnya menjadi pemimpin dalam
studi mengenai sedimen laut. Keberhasilan dari ekspedisi Challenger dan
pentingnya ilmu pengetahuan tentang laut dalam perkapalan/perhubungan laut,
perikanan, kabel laut dan studi mengenai iklim akhirnya membawa banyak negara
untuk melakukan ekspedisi-ekspedisi berikutnya. Organisasi oseanografi
internasional pertama adalah The International Council for the Exploration
of the Sea (1901).
Di Indonesia
sendiri terdapat beberapa lembaga penelitian dan perguruan-perguruan tinggi
dalam bidang kelautan. Salah satu lembaga penelitian kelautan yang tertua di
Indonesia adalah Lembaga Oseanologi Nasional, yang berada di bawah Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (disingkat menjadi LON-LIPI) yang kini telah berubah
namanya menjadi Pusat
Penelitian Oseanografi. Cikal bakal dari lembaga penelitian ini dulu
bernama Zoologish Museum en Laboratorium te Buitenzorg yang didirikan
pada tahun 1905.
`1.2
Tujuan praktikum
Tujuan
dari pelaksanaan praktek ini adalah untuk mengetahui teknik pengukuran di
lapangan parameter-parameter fisika kimia air laut (suhu,salinitas,dan
kecerahan) serta dinamika laut melalui pasang surut,arus,gelombang.
1.3 Manfaat pratikum
Manfaat pelaksanaan
praktek ini agar mahasiswa dapt mengukur dan mengetahui secara langsun
parameter-parameter fisika kimia air` laut (suhu,salinitas,dan kecerahan) serta
dinamika laut melalui pasang
surut,arus,dan gelombang.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Kualitas Air
2.1.1.Salinitas
Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut,
bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Keberadaan
garam-garaman mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti: densitas,
kompresibilitas, titik beku, dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum)
beberapa tingkat, tetapi tidak menentukannya. Beberapa sifat (viskositas, daya
serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat
yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar
listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis.
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah
klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%),
potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida,
asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut
adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang
hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.
Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh
garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah
susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga
salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida
(Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram
ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh
klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan
kandungan klorida.
Salinitas ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah total
dalam gram bahan-bahan terlarut dalam satu kilogram air laut jika semua
karbonat dirubah menjadi oksida, semua bromida dan yodium dirubah menjadi
klorida dan semua bahan-bahan organik dioksidasi. Selanjutnya hubungan antara
salinitas dan klorida ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar
laboratorium berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan
sebagai:
S
(o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo)
(1902)
Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah
bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding dengan 35o/oo
atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut.
Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas
sebesar 0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal
ini sangat menarik perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air
yang digunakan untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969
UNESCO memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara
klorinitas dan salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas
absolut dengan rumus:
S
(o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969)
Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata
didapatkan hasil yang sama dengan definisi sebelumnya.
Definisi salinitas ditinjau kembali ketika tekhnik untuk
menentukan salinitas dari pengukuran konduktivitas, temperatur dan tekanan
dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu satuan baru yaitu Practical
Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S, sebagai rasio
dari konduktivitas.
"Salinitas praktis dari suatu sampel air laut
ditetapkan sebagai rasio dari konduktivitas listrik (K) sampel air laut pada
temperatur 15oC dan tekanan satu standar atmosfer terhadap larutan
kalium klorida (KCl), dimana bagian massa KCl adalah 0,0324356 pada temperatur
dan tekanan yang sama. Rumus dari definisi ini adalah:
S
= 0.0080 - 0.1692 K1/2 + 25.3853 K + 14.0941 K3/2 -
7.0261 K2 + 2.7081 K5/2
Catatan:
Dari penggunaan definisi baru ini, dimana salinitas
dinyatakan sebagai rasio, maka satuan o/oo tidak lagi
berlaku, nilai 35o/oo berkaitan dengan nilai 35 dalam
satuan praktis. Beberapa oseanografer menggunakan satuan "psu" dalam
menuliskan harga salinitas, yang merupakan singkatan dari "practical
salinity unit". Karena salinitas praktis adalah rasio, maka sebenarnya
ia tidak memiliki satuan, jadi penggunaan satuan "psu" sebenarnya
tidak mengandung makna apapun dan tidak diperlukan. Pada kebanyakan peralatan
yang ada saat ini, pengukuran harga salinitas dilakukan berdasarkan pada hasil
pengukuran konduktivitas.
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah
subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara
tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis,
yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o -
40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman
akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000
meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap
kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah
daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).
2.1.2.Suhu
(Temperatur)
Dalam oseanografi dikenal dua istilah untuk menentukan
temperatur air laut yaitu temperatur insitu (selanjutnya disebut sebagai
temperatur saja) dan temperatur potensial. Temperatur adalah
sifat termodinamis cairan karena aktivitas molekul dan atom di dalam cairan tersebut.
Semakin besar aktivitas (energi), semakin tinggi pula temperaturnya. Temperatur
menunjukkan kandungan energi panas. Energi panas dan temperatur dihubungkan
oleh energi panas spesifik. Energi panas spesifik sendiri secara sederhana
dapat diartikan sebagai jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan
temperatur dari satu satuan massa fluida sebesar 1o. Jika kandungan
energi panas nol (tidak ada aktivitas atom dan molekul dalam fluida) maka
temperaturnya secara absolut juga nol (dalam skala Kelvin). Jadi nol dalam
skala Kelvin adalah suatu kondisi dimana sama sekali tidak ada aktivitas atom
dan molekul dalam suatu fluida. Temperatur air laut di permukaan ditentukan
oleh adanya pemanasan (heating) di daerah tropis dan pendinginan (cooling)
di daerah lintang tinggi. Kisaran harga temperatur di laut adalah -2o
s.d. 35oC.
Tekanan di dalam laut akan bertambah dengan bertambahnya
kedalaman. Sebuah parsel air yang bergerak dari satu level tekanan ke level
tekanan yang lain akan mengalami penekanan (kompresi) atau pengembangan
(ekspansi). Jika parsel air mengalamai penekanan secara adiabatis (tanpa
terjadi pertukaran energi panas), maka temperaturnya akan bertambah.
Sebaliknya, jika parsel air mengalami pengembangan (juga secara adiabatis),
maka temperaturnya akan berkurang. Perubahan temperatur yang terjadi akibat
penekanan dan pengembangan ini bukanlah nilai yang ingin kita cari, karena di
dalamnya tidak terjadi perubahan kandungan energi panas. Untuk itu, jika kita
ingin membandingkan temperatur air pada suatu level tekanan dengan level
tekanan lainnya, efek penekanan dan pengembangan adiabatik harus dihilangkan.
Maka dari itu didefinisikanlah temperatur potensial, yaitu temperatur dimana
parsel air telah dipindahkan secara adiabatis ke level tekanan yang lain. Di
laut, biasanya digunakan permukaan laut sebagai tekanan referensi untuk
temperatur potensial. Jadi kita membandingkan harga temperatur pada level
tekanan yang berbeda jika parsel air telah dibawa, tanpa percampuran dan
difusi, ke permukaan laut. Karena tekanan di atas permukaan laut adalah yang
terendah (jika dibandingkan dengan tekanan di kedalaman laut yang lebih dalam),
maka temperatur potensial (yang dihitung pada tekanan permukaan) akan selalu
lebih rendah daripada temperatur sebenarnya.
Satuan untuk temperatur dan temperatur potensial adalah
derajat Celcius. Sementara itu, jika temperatur akan digunakan untuk menghitung
kandungan energi panas dan transpor energi panas, harus digunakan satuan
Kelvin. 0oC = 273,16K. Perubahan 1oC sama dengan
perubahan 1K.
Seperti telah disebutkan di atas, temperatur menunjukkan
kandungan energi panas, dimana energi panas dan temperatur dihubungkan melalui
energi panas spesifik. Energi panas persatuan volume dihitung dari harga
temperatur menggunakan rumus Q = densitas*energi panas specifik*temperatur
(temperatur dalam satuan Kelvin). Jika tekanan tidak sama dengan nol,
perhitungan energi panas di lautan harus menggunakan temperatur potensial.
Satuan untuk energi panas (dalam mks) adalah Joule. Sementara itu, perubahan
energi panas dinyatakan dalam Watt (Joule/detik). Aliran (fluks) energi panas
dinyatakan dalam Watt/meter2 (energi per detik per satuan luas).
2.1.3. Derajat keasaman (pH)
pH merupakan suatu pernyataan dari konsentrasi ion
hidrogen (H+) di dalam air, besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari
konsentrasi ion H. Besaran pH berkisar antara 0 – 14, nilai pH kurang dari 7
menunjukkan lingkungan yang masam sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan
lingkungan yang basa, untuk pH = 7 disebut sebagai netral (Hardjojo dan
Djokosetiyanto, 2005). Perairan dengan pH < 4 merupakan perairan yang sangat
asam dan dapatmenyebabkan kematian makhluk hidup, sedangkan pH > 9,5
merupakan perairan
yang
sangat basa yang dapat menyebabkan kematian dan mengurangi produktivitas
perairan. Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif lebih stabil dan
berada dalam kisaran yang sempit, biasanya berkisar antara 7,7 – 8,4. pH
dipengaruhi oleh kapasitas penyangga (buffer) yaitu adanya garam-garam
karbonat dan bikarbonat yang dikandungnya (Boyd, 1982; Nybakken, 1992).
Pescod (1973) menyatakan bahwa
toleransi untuk kehidupan akuatik terhadap pH bergantung kepada banyak faktor
meliputi suhu, konsentrasi oksigen terlarut, adanya variasi bermcam-macam anion
dan kation, jenis dan daur hidup biota. Perairan basa (7 – 9) merupakan
perairan yang produktif dan berperan mendorong proses perubahan bahan organik
dalam air menjadi mineral-mineral yang dapat diassimilasi oleh fotoplankton
(Suseno, 1974).
pH air yang tidak optimal berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan, menyebabkan tidak efektifnya pemupukan
air di kolam dan meningkatkan daya racun hasil metabolisme seperti NH3 dan H2S.
pH air berfluktuasi mengikuti kadar CO2 terlarut dan memiliki pola hubungan terbalik,
semakin tinggi kandungan CO2 perairan, maka pH akan menurun dan demikian pula
sebaliknya. Fluktuasi ini akan berkurang apabila air mengandung garam CaCO3
(Cholik et al., 2005).
2.1.4. DO (dissolved oxsygen)
Oksigen terlarut merupakan faktor pembatas bagi
kehidupan organisme. Perubahan konsentrasi oksigen terlarut dapat menimbulkan
efek langsung yang berakibat pada kematian organisme perairan. Sedangkan
pengaruh yang tidak langsung adalah meningkatkan toksisitas bahan pencemar yang
pada akhirnya dapat membahayakan organisme itu sendiri. Hal ini disebabkan
oksigen terlarut digunakan untuk proses metabolisme dalam tubuh dan berkembang
biak (Rahayu, 1991).
Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk
kehidupan makhluk hidup didalam air maupun hewan teristrial. Penyebab utama
berkurangnya oksigen terlarut di dalam air adalah adanya bahan-bahan buangan
organik yang banyak mengkonsumsi oksigen sewaktu penguraian berlangsung
(Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005). Asmawi (1983) menyatakan O 2 terlarut yang
baik adalah 5–10 mg/l, CO 2 bebas tidak lebih dari 12 mg/l dan terendah 2 mg/l
serta NH 3 yang baik adalah kurang dari 1 mg/l. Pada kadar NH 3 0,053-0,280
mg/l kondisi larva udang masih cukup baik. Gangguan NH 3 terhadap larva mulai
terlihat pada kadar 0,6 mg/l, kandungan NH 3 yang baik untuk pertumbuhan ikan
kurang dari 1 mg/l dan CO 2 berkisar 0,0-15,0 mg/l (Hadic dan Jatna, 1998).
Konsentrasi oksigen terlarut yang aman bagi kehidupan diperairan sebaiknya
harus diatas titik kritis dan tidak terdapat bahan lain yang bersifat racun,
konsentrasi oksigen minimum sebesar 2 mg/l cukup memadai untuk menunjang secara
normal komunitas akuatik di periaran (Pescod, 1973). Kandungan oksigen terlarut
untuk menunjang usaha budidaya adalah 5 – 8 mg/l (Mayunar et al., 1995;
Akbar, 2001).
2.1.5.Kekeruhan
(Turbidity)
Kekeruhan merupakan sifat fisik air yang tidak hanya
membahayakan ikan tetapi juga menyebabkan air tidak produktif karena
menghalangi masuknya sinar matahari untuk fotosintesa. Kekeruhan ini disebabkan
air mengandung begitu banyak partikel tersuspensi sehingga merubah bentuk
tampilan menjadi berwarna dan kotor. Adapun penyebab kekeruhan ini antara lain
meliputi tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik yang tersebar secara baik dan
partikel-partikel kecil tersuspensi lainnya. Tingkat kekeruhan air di perairan
mempengaruhi tingkat kedalaman pencahayaan matahari, semakin keruh suatu badan
air maka semakin menghambat sinar matahari masuk ke dalam air. Pengaruh tingkat
pencahayaan matahari sangat besar pada metabolisme makhluk hidup dalam air,
jika cahaya matahari yang masuk berkurang maka makhluk hidup dalam air
terganggu, khususnya makhluk hidup pada kedalaman air tertentu, demikian pula
sebaliknya (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005; Alaerts dan Santika, 1987).
Menurut Alaerts dan Santika (1987) menyatakan bahwa
ada 3 metode pengukuran kekeruhan yaitu: 1) Metoda Nefelometrik (unit kekeruhan
nefelometrik FTU atau NTU); 2) Metoda Hellige Turbidimetri (unit kekeruhan
silica); 3) Metoda visual (unit kekeruhan Jackson). Metoda visual adalah
cara kuno dan lebih sesuai untuk nilai kekeruhan yang tinggi, yaitu lebih dari
25 unit, sedangkan metode nefelometrik lebih sensitif dan dapat digunakan untuk
segala tingkat kekeruhan. Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan
kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap langsung yang terdiri
dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil daripada
sediment, seperti tanah liat, bahan organik tertentu, sel-sel mikroorganisme
dan lain sebagainya (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005). Padatan tersuspensi
dan kekeruhan memiliki korelasi
positif
yaitu semakin tinggi nilai padatan tersuspensi maka semakin tinggi pula nilai
kekeruhan. Akan tetapi, tingginya padatan terlarut tidak selalu diikuti dengan
tingginya kekeruhan. Air laut memiliki nilai padatan terlarut yang tinggi,
tetapi tidak berarti kekeruhannya tinggi pula (Effendi, 2003). Padatan
tersuspensi perairan yang baik untuk usaha budidaya perikanan laut adalah 5 –
25 mg/l (KLH, 2004).
Padatan tersuspensi menciptakan resiko tinggi
terhadap kehidupan dalam air pada aliran air yang menerima tailings di
kawasan dataran rendah. Dalam daftar berikut ini, dapat dilihat bahwa padatan
tersuspensi dalam jumlah yang berlebih (diukur sebagai total suspended
solids – TSS) memiliki dampak langsung yang berbahaya terhadap kehidupan
dan bisa mengakibatkan kerusakan ekologis yang signifikan melalui beberapa
mekanisme berikut ini: 1) Abrasi langsung terhadap insang binatang air atau
jaringan tipis dari tumbuhan air; 2) Penyumbatan insang ikan atau selaput
pernapasan lainnya; 3) Menghambat tumbuhnya/smothering telur atau
kurangnya asupan oksigen karena terlapisi oleh padatan; 4) Gangguan terhadap
proses makan, termasuk proses mencari mangsa dan menyeleksi makanan (terutama
bagi predation dan filter feeding; 5) Gangguan terhadap proses
fotosintesis oleh ganggang atau rumput air karena padatan menghalangi sinar
yang masuk; 6) Perubahan integritas habitat akibat perubahan ukuran partikel.
2.2 Pasang Surut
1.
Pengertian
pasang surut
Pasang surut atau di
singkat sebagai pasut merupakan salah satu fenomena alam yang tampak nyata di
laut, yakni suatu gerakan vertical dari seluruh partikel massa air laut dari
pemukaan sampai bagian terdalam dari dasar laut secara periodik yang di
sebabkan oleh pengaru gaya tarik antara bumi dan benda-benda angkasa terutam
bulan dan matahari. Selanjutnya menginformasikan bahwa pasang surut adalah
gerakan naik turunnya air laut.yang terutama di sebabkan adanya gaya tarik
menarik dua tenaga yang yang terjadi di lautan yan berasal dari gaya
sentrifugal oleh perputaran bumi pada porosnya dan gaya grafitasi bumi
2.
Faktor
Penyebab Terjadinya Pasut
Faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori kesetimbangan adalah
rotasi bumi pada suhunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi bumi
terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis adalah kedalaman dan
luas perairan, rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga
terdapat beberapa factor local yang dapat mempengaruhi pasut di suatu perairan
seperti, topografi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya.
Sehingga berbagai lokasi memilki ciki cirri pasut yang berlainan.
Bulan dan matahari
keduanya memberikan gaya grafitasi tarikan terhadap bumi yang besarnya tergantung
pada besarnya masa benda yang saling terik menarik tersebut. bulan memberikan
gaya tarik (grafitasi) yang lebih besar di banding matahari. Hal ini disebabkan
karena walaupun masa bulan lebih kecil dari matahari, tetapi posisinya lebih
dekat ke bumi gaya-gaya ini mengakibatkan air laut yan menysun 71% permukaan
bumi, menggelembung pada sumbuh yang menghadap ke bulan. Apsang surut terbentuk
karena rotasi bumi yang berada dibawa muka air yang menggelembung ini, yang
mengakibatkan kenaikan dan penurunan permukaan laut di wilaya pesisir secara
periode. Gaya tarik grafitasi matahari juga memiliki efek yang sama namun
dengan derajat yang lebih kecil. Daerah-daerah pesisir mengalami du kali pasang
dan dua kali surut selam periode sedikit selama 24 jam.
Ada dua macam pasang surut :
1.
Pasang Purnama, ialah
peristiwa terjadinya pasang naik dan pasang surut tertinggi (besar). Pasang
besar terjadi pada tanggal 1 (berdasarkan kalender bulan)dan pada tanggal 14
(saat bulan purnama). Pada kedua tanggal tersebut posisi bumi-bulan-matahari
berada pada satu garis (konjungsi) sehingga kekuatan gaya tarik bulan dan
matahari berkumpul menjadi satu menarik permukaan bumi. Permukaan bumi yang
menghadap ke bulan mengalami pasang naik besar.
2.
Pasang Perbani, ialah
peristiwa terjadinya pasang naik dan pasang surut terendah (kecil). Pasang
kecil ini terjadi pada tanggal 7 dan 21 kalender bulan. Pada kedua tanggal
tersebut posisi matahari – bulan – bumi membentuk susut 90 °. Gaya tarik bulan
dan matahari terhadap bumi berlawanan arah sehingga kekuatannya menjadi
berkurang (saling melemahkan) dan terjadilah pasang terendah.
3.
Tipe
pasut
Pasang surut memiliki
beberapa unsur yang dikenal dengan karakteristik pasang surut yang meliputi ATT
( air tinggi tertinggi), ART ( air rendah terendah) tunggang air, dan
konstanta-konstanta pasang surut yang berperan dalam penentuan tipe pasang
surut yang dikenal dengan bilangan formzahl
Dilihat dari pola
gerakan muka lautnya, tipe pasang surut` di Indonesia dibedakan atas 4(empat)
tipe yaitu:
1. Pasang
surut harian ganda (semi diurnal tide) yaitu tipe pasang yang mana dalam sehari
terdi pasang surut dan dua kali surut dengan tinggi puncak yang hamper sama.
2. Pasang
surut harian tunggal (diurnal tide), yaitu tipe pasut dimana dalam sehari
terjadi satu kali pasang dan satu kali surut
3. Pasang
surut campuran yang condong ke harian ganda (mixed tide,prevailing
`semidiurnal), dan
4. Pasang
surut campuran yang condong ke harian tunggal (mixed tide,prevailing diurnal).
2.3
Arus
Arus adalah proses
pergerakan massa air menuju kesetimbangan yang menyebabkan perpindahan
horizontal dan vertical massa air. Gerakan tersebut merupakan resultan dari
beberapa gaya yang bekerja dan beberapa factor yang memepengaruhinya. Sedangkan
arus laut (sea curent) adalah gerakan mengalirnya massa air laut dari satu
tempat lain baik secara vertical ( gerak ke atas ) maupun secara horizontal (
gerakan ke samping ).
1. Penyebab
terjadinya arus
Arus laut dapat
disebabkan oleh beberapa factor, seperti gaya pasut, angin, perbedaan suhu,
salintasdan tekanan air laut, serta bentuk topografi dasar laut. Meskipun demikian, factor-faktor tersebut
bervariasi te3rhadap lokasi dan kedalaman perairan.
Pond dan pickard 1983
mengklasifikasikan gerakan massa air berdasarkan penyebabnya, terbagi atas :
a. Gerakan
dorongan angin
Angin adalah factor
yang membangkitkan arus, arus yang ditimbulkan oleh angin mempunyai kecepatan
yang berbeda menurut kedalaman. Kecepatan arus yang dibangkitkan oleh angin
memeliki perbahan yang kecil seiring pertambahan kedalaman hinga tidak
berpengaruh sama sekali
b. Gerakan
termohalin
Yaitu suatu pergerakan
massa air yang disebabkan oleh adanya perbedaan densitas. Perubahan densitas
timbul karena adanya perubahan suhu dan salintas antara 2. massa
air. Massa air yang densitasnya tinggi akan tengelam dan menyebar dibawah
permukaan air sebagai arus dalam dan sirkulasinya disebut arus termohalin.
c. Arus
Pasut
Arus yang di sebapkan
oleh daya tarik menarik bumi dan benda-benda angkasa. arus pasut ini merupakan
arus yang geraknya horizontal.
d. Turbulensi
Suwatu gerakan yang
terjadi pada lapisan atas air dan terjadi karna adanya gaya gesekan antara
gesekan
e. Tsunami
Sering di sebut sebagai
gelombang seismic yang di hasilkan dari pergeseran dasar laut sat terjadi
gempah.
2.4.
Pengertian gelombang laut
Gelombang yang
terbentuk di permukaan laut pada umunya terbentuk karena adanya proses alih
energi dari angin kepermukaan laut (Nontji, 1993). Gelombang laut adalah
gerakan dari setiap partikel air laut yang berupa gerak longitudinal dan
orbital secara bersamaan (vibrasi) yang di sebapkan oleh transmisi energy serta
waktu (momentum). Hutabart dan Evans (1985) bahwa gelombang adalah perpindahan
molekul air laut dengan frekuwensi yang cepat/besar maupun lambat/kecil dalam
gerakan mengorbit
Pada daera pantai
umunya di namika perairan yang didominasi oleh pergerakan gelombang (Mc.
Lelang, 1965). Pergerakan gelombang ketika mencapai daerah pantai akan
mengalami perubahan sebagai akibat interaksinya dengan dasar peraira. Perubahan
tersebu secara vartikel berbeda akibat kecepatan orbital gelombang mengalami
reduksi terhadap fungsi kedalaman serta akibat kecepatan geser (shear).
1. Penyebap
Terjadinya Gelombang
Triatmodjo (1999)
mengemukakan bahwa gelombang tersebut meliputi gelombang angin yang di bangkitkan
oleh tiupan angi di permukaan laut, gelombang pasang surut yaitu yang di
bangkitkan oleh gaya terik bendah-bendah langit terutama matahari dan bulan
terhadap bumi, gelombang tsunami terjadi karna letusan gunung berapi atau
gempah di laut, gerlombang yang di bangkitkan oleh kapal yang bergerak, dan
sebagainya.
2. Parameter
Gelombang Laut
Ilahude (1999)
menyatakan bahwa dalam mempelajari gelombang terdapat beberapa istilah penting
yang perluh di ketahui lebih dahuluh. Pengetahuan tersebut agar menghindari
kesalahan persepsi dalam mengenali cirri-ciri gelombang. Adapun istilah-istilah
yang berkenaan dengan parameter gelombang antara lain (gambar 1) :
1. tinggi gelombang (H): Selisi antara puncak dan
lembah gelombang dengan satuan meter (m.
2. amplitudo gelombang (A): jarak setengah (1/2)
dari tingi gelombang biasanya dinyatakan dalam satuan meter (m).
3. Periode
gelombang (T): waktu yang di perlukan oleh dua puncak gelombang untuk belewati
suwatu titik tertentu (titik pengamatan) dengan satuan detik (s)
4. Panjang
gelombang (λ baca lamda) : jarak mendatar antara dua puncak atau lembah
gelombang dengang satuan meter (m).
5. Kecepatan
gelombang (C) : yaitu jarak yang di tempuh oleh puncak gelombang dalam satu
satuan waktu. Kecepatan ini mempunyai satuan meter/detik (m/s).
6. Vrekuwensi
gelombang (f) : jumlah gelombang yang melewati satu titik pengamatan pada
priode waktu tertentu.
3. Klasifikasi
Gelombang
Secara garis besar
gelombang dapat diklasifikasikan di dalam beberapa bagian Rahardjo (1997)
Mengklasifikasikan gelombang menjadi 4 (empat) bagian , antaralan:
1) Klasifikasikan
berdasarkan perbandingan kedalaman perairan dan panjang gelombang, terbagi atas
beberapa bagian:
ü Gelombang
perairan dangkal
ü Gelombang
perairan dalam
ü Gelombang
transisi
2) Klasifikasi
berdasarkan pengaruh gaya pembangkit
3) Klasifikasi
berdasarkan pengaruh gaya pengembali
4) Klasifikasi
berdasarkan prioda panjang
Berdasarkan
periodenya, gelombang dapat di klasifikasikan seperti yang di perlihatkan pada
table (1)
Table .1 Klasifikasi gelombang
berdasarkan priodienya
|
Priode
|
Panjang
Gelombang
|
Nama
|
|
0-0,2
0,02-9,0
9 – 15
15 – 30
0,5 menit-jam
12,5 ; 25 jam
|
cm
<130
m
Ratusan
meter
Beberapa
ratusan meter
<ribuan
km
Ribuan
km
|
Ripples
Wind
waves
Swell
Longswell
Long
periode waves & tsunami
Pasang
surut
|
III.
METODOLOGI PRAKTEK
3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktek
lapangan ini dilaksanakan di pantai kelurahan Falajawa 1 (Swering) kota Ternate
pada tanggal 26 November 2011.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Pasang surut
|
No
|
Alat dan bahan
|
Kegunaan
|
|
1
|
Tide
staff ( palem pasut )
|
Untuk mengetahui tinggi muka air
|
|
2
|
Senter
|
Penerangan di malam hari
|
|
3
|
Tiang
penahan
|
Untuk mendapatkan nilai pasang surut
|
3.2.2
Pengamatan
Arus
|
No
|
Alat dan bahan
|
Kegunaan
|
|
1
|
Layangan arus (Current drouge)
|
Menentukan
kecepatan arus
|
|
2
|
Stopwath
|
Mengukur
waktu
|
|
3
|
Compas
|
Menentukan
arah
|
|
4
|
Wahana apung (perahu)
|
Transportasi
|
|
5
|
Tali
|
Menentukan
jarak
|
3.2.3 Gelombang
|
No
|
Alat
dan bahan
|
Kegunaan
|
|
1
|
Senter
|
Penerangan
|
|
2
|
Tiang
penahan
|
Pengukuran tinggi gelombang
|
|
3
|
Stopwath
|
Mengetahui kecepatan gelombang
|
|
4
|
Compas
|
Untuk menentukan arah
|
3.3
Cara Kerja
3.3.1.
Pasut
Secara umum kegiatan
praktek lapangan ini meliputibeberapa tahapan yang penting untuk diketahui.
Adapun tahapan tersebut melipiti:
1. Penempatan
Dan Pemasangan Alat Ukur
Dalam menempatkan alat harus memperhatikan beberapa
syarat pemasangan papan pasut yaitu:
1. Saat
pasang tertinggi, alat ukur tidak terendam air dan pada surut terendam masih
tergenang oleh air. Untuk itu, pemasangan alat ukur ini dilakukan pada saat
surut terendah.
2. Jangan
di pasang pada gelombang pecah karena akan menimbulkan bias dan dan atau pada
daerah aliran sungai.
3. Jangan
di pasang didaerah dekat kapal bersandar atau aktifitas yang menyebabkan air
bergerak secara tidak teratur.
4. Dipasang
pada daerah yang terlindung dan pada tempat yang muda untuk diamati dan di
pasang tegak lurus.
5. Cari
tempat yang mudah untuk pemasangan misalnya dermaga sehingga papan mudah
dikaitkan.
6. Dekat
d`engan benc mark atau titik referensi lain yang ada sehingga data pasang surut
muda untuk dikaitkan terhadap titik referensi.
7. Tanah
dalam dasar laut tempat didirikan papan harus stabil.
8. Tempat
didirikannya papan harus dibuat pengaman dari arus dan sampah.
3.3.2. Arus
Pada dasarnya,
pengukuran arus dapat di lakukan baik secara langsung maupun tidak langsung.
ada 2 metode pendekatan dalam melakukan pengukuran arus secara langsung, yaitu:
·
Metode Langrrarian: suatu metode yang
mengunakan benda-benda yang terapung di dalam air, di mana kecepatan di peroleh
dengan menghitung jarak tempuhnya persatuan waktu tertentu. sedangkan arah di
tentukan dengan kompas
·
Metode Eularian: pengukuran arus yang
dilakukan pada suatu titik stasiun tetap. alat yang biasa di gunakan: current
meter, sistem mooring.
dalam
kegiatan praktikum ini, pengukuran arus di lakukan dengan mengunakan metode
eularian (stasiu/ titik tetap). dengan mengunakan alat sederhana yaitu current drouge (layangan arus). prinsip
kerja pengukuran:
·
Alat ini di ikatkan dengan tali yang
panjangnya sekitar 5 meter sebagai fungi jarak
·
Alat ini kemudian di lepas/di hanyutkan,
dan secara bersamaan sat alat tersebut di hanyutkan, maka penghitungan waktu
(stopwatch) dijalanklan.
·
Setelah alat ini bergerak hinga tali
yang panjangnya 5 meter tadi meregang, maka stopwatch di matikan dan di catat
waktunya (fungsi T),
·
Dengan prosedur yang sama, pengamatan
arus ini dilakukan sebanyak 3 kali ulanngan pada setiap jam pengamatan.
·
Dengan mengunakan rumus sederhana, maka
kecepatan arus dapat di hitung dengan persamaan V=S/t.
·
Arus yang di tentukan dengan mengunakan
kompas, yaitu dengan membidik arh pergerakan alat.
3.3.3. Gelombang
1. Tingi
gelombang
Pengukuran tingi gelombang di
lakukan dengan mengunakan papan berskala (tiang ukur pasut saja).pengamatan di
lakukan di lakukan secara fiswal saat gelombang dating, di mana tinggi
gelombang. Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali ulangan.
2. Periode
gelombang
Pengukuran priode gelombang di
lakukan dengan mengunakan stopwatch. Periode gelombang di peroleh dengan
menghitung waktu yang di perlukan oleh dua puncak gelombang secara
berturut-turut yang melewati satu titik. Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali
ulangan.
3. Frekuensi
gelombang
Frekuensi gelombang diukur dengan
mengunakan stopwatch, di mana nilainya diperoleh dengan melihat berapa banyak
jumlah gelombang yang dating/mencapai satu titik dalam satu waktu tertentu
(dalam praktikum ini selama 1 menit). Pengamatan di lakukan sebanyak 3 kali
ulangan
4. Arah
dating gelombang
Arah gelombang diukur dengan
menggunakan kompas, dimana nilainya diperoleh dengan membidik puncak gelombang
yang merambat kea rah pantai kemudian baca skala yang tertera pada kompas.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
Deskripsi Lokasi
Kegiatan praktek
lapangan ini dilaksanakan di pantai kelurahan Falajawa 1 (Swering) kota Ternate,
terletak di bagian depan mesjid Muhajirin Swering Kota Ternate dan samping
jembatan Residen. Adapun batasan wilayah praktikum sebagai berikut :
Sebelah Utara
berbatasan dengan Tapak dua
Sebelah Barat
berbatasan dengan ruko dan rumah penduduk serta perkantoran
Sebelah Selatan
berbatasan dengan pelabuhan Ahmad Yani dan
Sebelah
Timur adalah laut bebas dan pulau Halmahera
4.2.
Kondisi umum perairan
Kondisi perairan merupakan salah satu
bagian yang sangat penting dalam menilai baik buruknya suatu perairan, dari
hasil penelitian selama 24 jam diperoleh rata-rata temperatur adalah 29.6 –
30.1 ºC, Salinitas 0.30 – 3.56 ‰, Oksigen terlarut (DO) 3.10 –
3.87 mg/l, Conductivity 53.0 – 63.8 Ms/cm, Turbidity 1.66 – 30 dan pH 7.64 –
8.02. (Lampiran 1)
Kisaran harga temperatur di laut adalah -2o
s.d. 35oC. Salinitas
di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati
kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap
kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o
- 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di
permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi
(penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya
rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara
itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman
akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan). Asmawi (1983)
menyatakan O 2 terlarut yang baik adalah 5–10 mg/l, CO 2 bebas tidak lebih dari
12 mg/l dan terendah 2 mg/l serta NH 3 yang baik adalah kurang dari 1 mg/l.
Pada kadar NH 3 0,053-0,280 mg/l kondisi larva udang masih cukup baik, untuk
faktor yang paling dominan dalam perubahan konduktivitas di laut adalah
temperature, sedangkan Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif lebih
stabil dan berada dalam kisaran yang sempit, biasanya berkisar antara 7,7 –
8,4. pH dipengaruhi oleh kapasitas penyangga (buffer) yaitu adanya
garam-garam karbonat dan bikarbonat yang dikandungnya (Boyd, 1982; Nybakken,
1992)
Table
Parameter kualitas Air
|
No
|
Jam
|
PARAMETER
KUALITAS AIR
|
|||||
|
Temperatur
(°c)
|
Salinitas (‰)
|
DO (mg/l)
|
Conductivity
(Ms/cm)
|
Turbidity
|
pH
|
||
|
1
|
07.00
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
2
|
08.00
|
29.7
|
0.349
|
3.30
|
-
|
-
|
7.95
|
|
3
|
09.00
|
-
|
0.308
|
3.10
|
-
|
-
|
-
|
|
4
|
10.00
|
30.7
|
0.350
|
3.45
|
53.3
|
30
|
8.02
|
|
5
|
11.00
|
31.2
|
0.352
|
3.54
|
53.3
|
28
|
7.98
|
|
6
|
12.00
|
31.5
|
0.349
|
3.60
|
52.8
|
30
|
7.87
|
|
7
|
13.00
|
30.6
|
0.356
|
4.62
|
63.8
|
6
|
7.98
|
|
8
|
14.00
|
30.5
|
0.350
|
4.40
|
53.0
|
7
|
7.84
|
|
9
|
15.00
|
30.4
|
0.354
|
4.21
|
53.5
|
5
|
7.68
|
|
10
|
16.00
|
29.6
|
3.56
|
4.66
|
53.5
|
9
|
7.74
|
|
11
|
17.00
|
30.0
|
3.53
|
3.70
|
53.8
|
1.66
|
7.76
|
|
12
|
18.00
|
30.1
|
3.53
|
3.87
|
53.4
|
2.33
|
7.78
|
4.3.
Pasang
Surut
a. Mean
sea Level (MSL)
Muka laut rata-rata berdaasarkan hasil
pengamatan dari 24 data dengan total data pengamatan tinggi air 2019 maka
diperoleh nilai MSL adalah 84.125
b. Air
Tinggi (AT)
Dari data yang diperoleh Kedudukan paras
muka laut yang tertinggi sewaktu mengalami pasang naik adalah 175 cm yang
terjadi pada jam 18.00 WIT.
c. Air
Rendah (AR)
Dari data yang diperoleh kedudukan paras
muka laut terendah saat mengalami surut adalah 20 cm terjadi pada jam 01.00
WIT.
d. Tunggangair
Untuk kisaran pasut yang diperoleh dari
data yang diperoleh yaitu 175 – 20 cm adalah 155 cm
e. Tipe
pasut
Dari grafik dibawah ini dapat
dilihat bahwa terjadi dua kali pasang dan surut dengan tinggi yang berbeda,
maka tipe pasutnya adalah semi diurnal yang condong ke harian ganda.
Gambar grafik pasut
4.4.
Arus
Arus laut (sea current) adalah gerakan
massa air laut dari satu tempat ke tempat lain baik secara vertikal (gerak ke
atas) maupun secara horizontal (gerakan ke samping). Dari hasil diperoleh
kecepatan rata-rata arus adalah 0.294 m/s
Contoh-contoh gerakan itu seperti gaya
coriolis, yaitu gaya yang membelok arah arus dari tenaga rotasi bumi.
Pembelokan itu akan mengarah ke kanan di belahan bumi utara dan mangarah ke
kiri di belahan bumi selatan. Gaya ini yang mengakibatkan adanya aliran gyre
yang searah jarum jam (ke kanan) pada belahan bumi utara dan berlawanan dengan
arah jarum jam di belahan bumi selatan. Perubahan arah arus dari pengaruh angin
ke pengaruh gaya coriolis dikenal dengan spiral ekman. Menurut letaknya arus
dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus bawah.
Arus atas adalah arus yang bergerak di
permukaan laut. Sedangkan arus bawah adalah arus yang bergerak di bawah
permukaan laut.
4.5.
Gelombang
Gelombang laut atau ombak merupakan
gerakan air laut yang paling umum dan mudah kita amati. Helmholts menerangkan
prinsip dasar terjadinya gelombang laut sebagai berikut : “Jika ada dua massa
benda yang berbeda kerapatannya (densitasnya) bergesekan satu sama lain, maka
pada bidang gerakannya akan terbentuk gelombang”.
Dari data yang diperoleh rata-rata
banyak gelombang yang datang sebanyak 42 kali dari 60 detik. Dengan arah 82º-
130º.
Gerakan permukaan gelombang dapat dikelompokan sebagai berikut:
1.
Gerak osilasi, yaitu gerak
gelombang akibat molekul air bergerak melingkar. Gerak osilasi biasanya terjadi
di laut lepas, yaitu pada bagian laut dalam. Adanya gelombang dibangkitkan oleh
kecepatan angin, lamanya angin bertiup, luas daerah yang ditiup angin (fetch),
dan kedalaman laut. Gelombang ini memiliki tinggi dan lembah gelombang. Puncak
gelombang akan pecah di dekat pantai yang disebut breaker atau gelora.
2.
Gerak translasi, yaitu gelombang osilasi yang
telah pecah lalu seperti memburu garis pantai, bergerak searah dengan gerak
gelombang tanpa diimbangi gerakan mundur. Gelombang ini tidak memiliki puncak
dan lembah yang kemucian dikenal dengan istilah surf. Gelombang ini
dimanfaatkan untuk olah raga surfing.
3.
Gerak swash dan back swash
berbentuk gelombang telah menyentuh garis pantai. Kedatangan gelombang disebut
swash, sedangkan ketika kembali disebut back swash.
V.
KESIMPULAN
5.1.
Kesimpulan
Dari
hasil yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Parameter
fisika kimia yang berada di lokasi penelitian masih berada dalam kondisi yang
normal.
2. Muka
laut rata-rata berdaasarkan hasil pengamatan dari 24 data dengan total data
pengamatan tinggi air 2019 maka diperoleh nilai MSL adalah 84.125, Air Tinggi
(AT) adalah 175 cm, Rendah (AR) adalah 20 cm ,Tunggangair adalah 155 cm dan
Tipe pasut terjadi dua kali pasang dan surut dengan tinggi yang berbeda, maka
tipe pasutnya adalah semi diurnal yang condong ke harian ganda.
3.
Kecepatan rata-rata arus selama
penelitian adalah 0.294 m/s dan
4.
Rata-rata banyak gelombang
yang datang sebanyak 42 kali dari 60 detik. Dengan arah 82º- 130º.
5.2.
Saran
Berdasarkan kesimpullan
di atas, maka penulis menyarankan agar praktikum ini perlu penting untuk na di
laksanakan, guna agar mahasiswa dapat mengetahui mata muliah pengantar
oseonografi secara mendalam.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad Yani dkk, Geografi
untuk SMA kelas 1, Bandung, Grafindo, 2004
K. Wardijatmoko, Geografi
SMA Kelas X, Jakarta, Erlangga, 2004
TIM Geografi DKI Jakarta, Geografi Regional SMA 1, Jakarta,
Erlangga, 1994
DAFTAR
LAMPIRAN
Lampiran
1 Pengukuran
Parameter Kualitas Air
|
NO
|
JAM
|
PARAMETER KUALITAS AIR
|
|||||
|
Temperatur (°c)
|
Salinitas (‰)
|
DO (mg/l)
|
Conductivity (Ms/cm)
|
Turbidity
|
pH
|
||
|
1
|
07.00
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
2
|
08.00
|
29.7
|
0.349
|
3.30
|
-
|
-
|
7.95
|
|
3
|
09.00
|
-
|
0.308
|
3.10
|
-
|
-
|
-
|
|
4
|
10.00
|
30.7
|
0.350
|
3.45
|
53.3
|
30
|
8.02
|
|
5
|
11.00
|
31.2
|
0.352
|
3.54
|
53.3
|
28
|
7.98
|
|
6
|
12.00
|
31.5
|
0.349
|
3.60
|
52.8
|
30
|
7.87
|
|
7
|
13.00
|
30.6
|
0.356
|
4.62
|
63.8
|
6
|
7.98
|
|
8
|
14.00
|
30.5
|
0.350
|
4.40
|
53.0
|
7
|
7.84
|
|
9
|
15.00
|
30.4
|
0.354
|
4.21
|
53.5
|
5
|
7.68
|
|
10
|
16.00
|
29.6
|
3.56
|
4.66
|
53.5
|
9
|
7.74
|
|
11
|
17.00
|
30.0
|
3.53
|
3.70
|
53.8
|
1.66
|
7.76
|
|
12
|
18.00
|
30.1
|
3.53
|
3.87
|
53.4
|
2.33
|
7.78
|
Lampiran 2 hasil
pengamatan pasang surut
|
NO
|
JAM
|
TINGGI AIR (cm)
|
KETERANGAN
|
|
1
|
00.00
|
25
|
Pasang
|
|
2
|
01.00
|
20
|
Surut
|
|
3
|
02.00
|
25
|
Pasang
|
|
4
|
03.00
|
35
|
Pasang
|
|
5
|
04.00
|
60
|
Pasang
|
|
6
|
05.00
|
75
|
Pasang
|
|
7
|
06.00
|
90
|
Pasang
|
|
8
|
07.00
|
103
|
Pasang
|
|
9
|
08.00
|
95
|
Surut
|
|
10
|
09.00
|
75
|
Surut
|
|
11
|
10.00
|
60
|
Surut
|
|
12
|
11.00
|
45
|
Surut
|
|
13
|
12.00
|
38
|
Surut
|
|
14
|
13.00
|
56
|
Pasang
|
|
15
|
14.00
|
67
|
Pasang
|
|
16
|
15.00
|
90
|
Pasang
|
|
17
|
16.00
|
125
|
Pasang
|
|
18
|
17.00
|
165
|
Pasang
|
|
19
|
18.00
|
170
|
Pasang
|
|
20
|
19.00
|
175
|
Pasang
|
|
21
|
20.00
|
155
|
Surut
|
|
22
|
21.00
|
130
|
Surut
|
|
23
|
22.00
|
85
|
Surut
|
|
24
|
23.00
|
55
|
Surut
|
Lampiran 3 Pengamatan
arus
|
NO
|
Jam
|
PERGERAKAN ARUS
|
ARAH
|
||
|
Jarak (s)
|
Waktu (t)
|
Kecepatan (v)
|
|||
|
1
|
07.00
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
2
|
08.00
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
3
|
09.00
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
4
|
10.00
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
5
|
11.00
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
6
|
12.00
|
5 m
|
23.91 detik
|
0.209
m/s
|
140°
|
|
7
|
13.00
|
5 m
|
93 detik
|
0,054 m/s
|
180°
|
|
8
|
14.00
|
5 m
|
53 detik
|
0,094 m/s
|
220°
|
|
9
|
15.00
|
5 m
|
41 detik
|
0,122 m/s
|
240°
|
|
10
|
16.00
|
5 m
|
20.44 detik
|
0.245 m/s
|
163°
|
|
11
|
17.00
|
5 m
|
12.61 detik
|
0.397 m/s
|
153°
|
|
12
|
18.00
|
5 m
|
15.28 detik
|
0.327 m/s
|
153°
|
Lampiran 4 Pengamatan
gelombang
|
NO
|
JAM
|
PARAMETER GELOMBANG
|
PERIODE
|
FREKUENSI
|
ARAH
|
|||
|
PUNCAK
|
LEMBAH
|
TINGGI
|
WAKTU
|
BANYAK GELOMBANG
|
||||
|
1
|
07.00
|
115
cm
|
-
|
-
|
-
|
60
detik
|
10
|
-
|
|
2
|
08.00
|
100
cm
|
-
|
-
|
-
|
60
detik
|
28
|
-
|
|
3
|
09.00
|
80
cm
|
-
|
-
|
-
|
60
detik
|
16
|
-
|
|
4
|
10.00
|
65
cm
|
56
cm
|
9
cm
|
4.70
detik
|
60
detik
|
34
|
|
|
5
|
11.00
|
50
cm
|
40
cm
|
10
cm
|
3.30
detik
|
60
detik
|
37
|
|
|
6
|
12.00
|
40
cm
|
35
cm
|
5
cm
|
3.19
detik
|
60
detik
|
25
|
|
|
7
|
13.00
|
53,5
cm
|
47
cm
|
6,5
cm
|
10,36
detik
|
60
detik
|
37
|
130°
|
|
8
|
14.00
|
175
cm
|
170
cm
|
5
cm
|
1,78
detik
|
60
detik
|
68
|
83°
|
|
9
|
15.00
|
100
cm
|
96
cm
|
4
cm
|
2,12
detik
|
60
detik
|
62
|
82°
|
|
10
|
16.00
|
150
cm
|
145
cm
|
5
cm
|
10.14
detik
|
60
detik
|
52
|
120°
|
|
11
|
17.00
|
165
cm
|
160
cm
|
5
cm
|
08.79
detik
|
60
detik
|
65
|
130°
|
|
12
|
18.00
|
190
cm
|
185
cm
|
5
cm
|
13.0
detik
|
60
detik
|
70
|
120°
|
Lampiran
5. Dokumentasi
Pengambilan pengukuran kualitas air
Pengamatan pasang surut
Pengamatan gelombang