Kamis, 29 November 2012

Laporan Praktikum



 I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Oseanografi terdiri dari dua kata: oceanos yang berarti laut dan graphos yang berarti gambaran atau deskripsi (bahasa Yunani). Secara sederhana kita dapat mengartikan oseanografi sebagai gambaran atau deskripsi tentang laut. Dalam bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai studi dan penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai laut dan segala fenomenanya. Laut sendiri adalah bagian dari hidrosfer. Seperti kita ketahui bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian cair yang disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer. Sementara itu bagian yang berkaitan dengan sistem ekologi seluruh makhluk hidup penghuni planet Bumi dikelompokkan ke dalam biosfer.
Sebelum melangkah pada uraian yang lebih jauh, mungkin ada di antara anda yang bertanya: "Apa bedanya oseanografi dan oseanologi?" Kalau kita melihat pada beberapa ensiklopedia yang ada, oseanografi dan oseanologi adalah dua hal yang sama (sinonim). Namun, dari beberapa sumber lain dikatakan bahwa ada perbedaan mendasar yang membedakan antara oseanografi dan oseanologi. Oseanologi terdiri dari dua kata (dalam bahasa Yunani) yaitu oceanos (laut) dan logos (ilmu) yang secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang laut. Dalam arti yang lebih lengkap, oseanologi adalah studi ilmiah mengenai laut dengan cara menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan tradisional seperti fisika, kimia, matematika, dll ke dalam segala aspek mengenai laut. Anda tinggal pilih, mau setuju dengan pendapat pertama atau kedua.
Secara umum, oseanografi dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) bidang ilmu utama yaitu: geologi oseanografi yang mempelajari lantai samudera atau litosfer di bawah laut; fisika oseanografi yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti arus, gelombang, pasang surut dan temperatur air laut; kimia oseanografi yang mempelajari masalah-masalah kimiawi air laut dan yang terakhir biologi oseanografi yang mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan fauna di laut.
Studi menyeluruh (komprehensif) mengenai laut dimulai pertama kali dengan dilakukannya ekspedisi Challenger (1872-1876) yang dipimpin oleh naturalis bernama C.W. Thomson (berkebangsaan Skotlandia) dan John Murray (berkebangsaan Kanada). Istilah Oseanografi sendiri digunakan oleh mereka dalam laporan yang diedit oleh Murray. Murray selanjutnya menjadi pemimpin dalam studi mengenai sedimen laut. Keberhasilan dari ekspedisi Challenger dan pentingnya ilmu pengetahuan tentang laut dalam perkapalan/perhubungan laut, perikanan, kabel laut dan studi mengenai iklim akhirnya membawa banyak negara untuk melakukan ekspedisi-ekspedisi berikutnya. Organisasi oseanografi internasional pertama adalah The International Council for the Exploration of the Sea (1901).
Di Indonesia sendiri terdapat beberapa lembaga penelitian dan perguruan-perguruan tinggi dalam bidang kelautan. Salah satu lembaga penelitian kelautan yang tertua di Indonesia adalah Lembaga Oseanologi Nasional, yang berada di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (disingkat menjadi LON-LIPI) yang kini telah berubah namanya menjadi Pusat Penelitian Oseanografi. Cikal bakal dari lembaga penelitian ini dulu bernama Zoologish Museum en Laboratorium te Buitenzorg yang didirikan pada tahun 1905.
`1.2 Tujuan praktikum                                  
            Tujuan dari pelaksanaan praktek ini adalah untuk mengetahui teknik pengukuran di lapangan parameter-parameter fisika kimia air laut (suhu,salinitas,dan kecerahan) serta dinamika laut melalui pasang surut,arus,gelombang.
1.3 Manfaat pratikum
Manfaat pelaksanaan praktek ini agar mahasiswa dapt mengukur dan mengetahui secara langsun parameter-parameter fisika kimia air` laut (suhu,salinitas,dan kecerahan) serta dinamika laut  melalui pasang surut,arus,dan gelombang.









 II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kualitas Air
2.1.1.Salinitas
Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Keberadaan garam-garaman mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti: densitas, kompresibilitas, titik beku, dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum) beberapa tingkat, tetapi tidak menentukannya. Beberapa sifat (viskositas, daya serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis.
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.
Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan kandungan klorida.
Salinitas ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah total dalam gram bahan-bahan terlarut dalam satu kilogram air laut jika semua karbonat dirubah menjadi oksida, semua bromida dan yodium dirubah menjadi klorida dan semua bahan-bahan organik dioksidasi. Selanjutnya hubungan antara salinitas dan klorida ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar laboratorium berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan sebagai:
S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902)
Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu. Kandungan garam 3,5% sebanding dengan 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu kilogram air laut.
Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas sebesar 0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal ini sangat menarik perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang digunakan untuk pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO memutuskan untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas dan salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas absolut dengan rumus:
S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969)
Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini ternyata didapatkan hasil yang sama dengan definisi sebelumnya.
Definisi salinitas ditinjau kembali ketika tekhnik untuk menentukan salinitas dari pengukuran konduktivitas, temperatur dan tekanan dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu satuan baru yaitu Practical Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S, sebagai rasio dari konduktivitas.
"Salinitas praktis dari suatu sampel air laut ditetapkan sebagai rasio dari konduktivitas listrik (K) sampel air laut pada temperatur 15oC dan tekanan satu standar atmosfer terhadap larutan kalium klorida (KCl), dimana bagian massa KCl adalah 0,0324356 pada temperatur dan tekanan yang sama. Rumus dari definisi ini adalah:
S = 0.0080 - 0.1692 K1/2 + 25.3853 K + 14.0941 K3/2 - 7.0261 K2 + 2.7081 K5/2
Catatan:
Dari penggunaan definisi baru ini, dimana salinitas dinyatakan sebagai rasio, maka satuan o/oo tidak lagi berlaku, nilai 35o/oo berkaitan dengan nilai 35 dalam satuan praktis. Beberapa oseanografer menggunakan satuan "psu" dalam menuliskan harga salinitas, yang merupakan singkatan dari "practical salinity unit". Karena salinitas praktis adalah rasio, maka sebenarnya ia tidak memiliki satuan, jadi penggunaan satuan "psu" sebenarnya tidak mengandung makna apapun dan tidak diperlukan. Pada kebanyakan peralatan yang ada saat ini, pengukuran harga salinitas dilakukan berdasarkan pada hasil pengukuran konduktivitas.
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).
2.1.2.Suhu (Temperatur)
Dalam oseanografi dikenal dua istilah untuk menentukan temperatur air laut yaitu temperatur insitu (selanjutnya disebut sebagai temperatur saja) dan temperatur potensial. Temperatur adalah sifat termodinamis cairan karena aktivitas molekul dan atom di dalam cairan tersebut. Semakin besar aktivitas (energi), semakin tinggi pula temperaturnya. Temperatur menunjukkan kandungan energi panas. Energi panas dan temperatur dihubungkan oleh energi panas spesifik. Energi panas spesifik sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur dari satu satuan massa fluida sebesar 1o. Jika kandungan energi panas nol (tidak ada aktivitas atom dan molekul dalam fluida) maka temperaturnya secara absolut juga nol (dalam skala Kelvin). Jadi nol dalam skala Kelvin adalah suatu kondisi dimana sama sekali tidak ada aktivitas atom dan molekul dalam suatu fluida. Temperatur air laut di permukaan ditentukan oleh adanya pemanasan (heating) di daerah tropis dan pendinginan (cooling) di daerah lintang tinggi. Kisaran harga temperatur di laut adalah -2o s.d. 35oC.
Tekanan di dalam laut akan bertambah dengan bertambahnya kedalaman. Sebuah parsel air yang bergerak dari satu level tekanan ke level tekanan yang lain akan mengalami penekanan (kompresi) atau pengembangan (ekspansi). Jika parsel air mengalamai penekanan secara adiabatis (tanpa terjadi pertukaran energi panas), maka temperaturnya akan bertambah. Sebaliknya, jika parsel air mengalami pengembangan (juga secara adiabatis), maka temperaturnya akan berkurang. Perubahan temperatur yang terjadi akibat penekanan dan pengembangan ini bukanlah nilai yang ingin kita cari, karena di dalamnya tidak terjadi perubahan kandungan energi panas. Untuk itu, jika kita ingin membandingkan temperatur air pada suatu level tekanan dengan level tekanan lainnya, efek penekanan dan pengembangan adiabatik harus dihilangkan. Maka dari itu didefinisikanlah temperatur potensial, yaitu temperatur dimana parsel air telah dipindahkan secara adiabatis ke level tekanan yang lain. Di laut, biasanya digunakan permukaan laut sebagai tekanan referensi untuk temperatur potensial. Jadi kita membandingkan harga temperatur pada level tekanan yang berbeda jika parsel air telah dibawa, tanpa percampuran dan difusi, ke permukaan laut. Karena tekanan di atas permukaan laut adalah yang terendah (jika dibandingkan dengan tekanan di kedalaman laut yang lebih dalam), maka temperatur potensial (yang dihitung pada tekanan permukaan) akan selalu lebih rendah daripada temperatur sebenarnya.
Satuan untuk temperatur dan temperatur potensial adalah derajat Celcius. Sementara itu, jika temperatur akan digunakan untuk menghitung kandungan energi panas dan transpor energi panas, harus digunakan satuan Kelvin. 0oC = 273,16K. Perubahan 1oC sama dengan perubahan 1K.
Seperti telah disebutkan di atas, temperatur menunjukkan kandungan energi panas, dimana energi panas dan temperatur dihubungkan melalui energi panas spesifik. Energi panas persatuan volume dihitung dari harga temperatur menggunakan rumus Q = densitas*energi panas specifik*temperatur (temperatur dalam satuan Kelvin). Jika tekanan tidak sama dengan nol, perhitungan energi panas di lautan harus menggunakan temperatur potensial. Satuan untuk energi panas (dalam mks) adalah Joule. Sementara itu, perubahan energi panas dinyatakan dalam Watt (Joule/detik). Aliran (fluks) energi panas dinyatakan dalam Watt/meter2 (energi per detik per satuan luas).
 2.1.3. Derajat keasaman (pH)
pH merupakan suatu pernyataan dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air, besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H. Besaran pH berkisar antara 0 – 14, nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang masam sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan lingkungan yang basa, untuk pH = 7 disebut sebagai netral (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005). Perairan dengan pH < 4 merupakan perairan yang sangat asam dan dapatmenyebabkan kematian makhluk hidup, sedangkan pH > 9,5 merupakan perairan
yang sangat basa yang dapat menyebabkan kematian dan mengurangi produktivitas perairan. Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif lebih stabil dan berada dalam kisaran yang sempit, biasanya berkisar antara 7,7 – 8,4. pH dipengaruhi oleh kapasitas penyangga (buffer) yaitu adanya garam-garam karbonat dan bikarbonat yang dikandungnya (Boyd, 1982; Nybakken, 1992).
            Pescod (1973) menyatakan bahwa toleransi untuk kehidupan akuatik terhadap pH bergantung kepada banyak faktor meliputi suhu, konsentrasi oksigen terlarut, adanya variasi bermcam-macam anion dan kation, jenis dan daur hidup biota. Perairan basa (7 – 9) merupakan perairan yang produktif dan berperan mendorong proses perubahan bahan organik dalam air menjadi mineral-mineral yang dapat diassimilasi oleh fotoplankton (Suseno, 1974).

pH air yang tidak optimal berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan, menyebabkan tidak efektifnya pemupukan air di kolam dan meningkatkan daya racun hasil metabolisme seperti NH3 dan H2S. pH air berfluktuasi mengikuti kadar CO2 terlarut dan memiliki pola hubungan terbalik, semakin tinggi kandungan CO2 perairan, maka pH akan menurun dan demikian pula sebaliknya. Fluktuasi ini akan berkurang apabila air mengandung garam CaCO3 (Cholik et al., 2005).
 2.1.4. DO (dissolved oxsygen)
Oksigen terlarut merupakan faktor pembatas bagi kehidupan organisme. Perubahan konsentrasi oksigen terlarut dapat menimbulkan efek langsung yang berakibat pada kematian organisme perairan. Sedangkan pengaruh yang tidak langsung adalah meningkatkan toksisitas bahan pencemar yang pada akhirnya dapat membahayakan organisme itu sendiri. Hal ini disebabkan oksigen terlarut digunakan untuk proses metabolisme dalam tubuh dan berkembang biak (Rahayu, 1991).
Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan makhluk hidup didalam air maupun hewan teristrial. Penyebab utama berkurangnya oksigen terlarut di dalam air adalah adanya bahan-bahan buangan organik yang banyak mengkonsumsi oksigen sewaktu penguraian berlangsung (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005). Asmawi (1983) menyatakan O 2 terlarut yang baik adalah 5–10 mg/l, CO 2 bebas tidak lebih dari 12 mg/l dan terendah 2 mg/l serta NH 3 yang baik adalah kurang dari 1 mg/l. Pada kadar NH 3 0,053-0,280 mg/l kondisi larva udang masih cukup baik. Gangguan NH 3 terhadap larva mulai terlihat pada kadar 0,6 mg/l, kandungan NH 3 yang baik untuk pertumbuhan ikan kurang dari 1 mg/l dan CO 2 berkisar 0,0-15,0 mg/l (Hadic dan Jatna, 1998). Konsentrasi oksigen terlarut yang aman bagi kehidupan diperairan sebaiknya harus diatas titik kritis dan tidak terdapat bahan lain yang bersifat racun, konsentrasi oksigen minimum sebesar 2 mg/l cukup memadai untuk menunjang secara normal komunitas akuatik di periaran (Pescod, 1973). Kandungan oksigen terlarut untuk menunjang usaha budidaya adalah 5 – 8 mg/l (Mayunar et al., 1995; Akbar, 2001).
2.1.5.Kekeruhan (Turbidity)
Kekeruhan merupakan sifat fisik air yang tidak hanya membahayakan ikan tetapi juga menyebabkan air tidak produktif karena menghalangi masuknya sinar matahari untuk fotosintesa. Kekeruhan ini disebabkan air mengandung begitu banyak partikel tersuspensi sehingga merubah bentuk tampilan menjadi berwarna dan kotor. Adapun penyebab kekeruhan ini antara lain meliputi tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik yang tersebar secara baik dan partikel-partikel kecil tersuspensi lainnya. Tingkat kekeruhan air di perairan mempengaruhi tingkat kedalaman pencahayaan matahari, semakin keruh suatu badan air maka semakin menghambat sinar matahari masuk ke dalam air. Pengaruh tingkat pencahayaan matahari sangat besar pada metabolisme makhluk hidup dalam air, jika cahaya matahari yang masuk berkurang maka makhluk hidup dalam air terganggu, khususnya makhluk hidup pada kedalaman air tertentu, demikian pula sebaliknya (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005; Alaerts dan Santika, 1987).
Menurut Alaerts dan Santika (1987) menyatakan bahwa ada 3 metode pengukuran kekeruhan yaitu: 1) Metoda Nefelometrik (unit kekeruhan nefelometrik FTU atau NTU); 2) Metoda Hellige Turbidimetri (unit kekeruhan silica); 3) Metoda visual (unit kekeruhan Jackson). Metoda visual adalah cara kuno dan lebih sesuai untuk nilai kekeruhan yang tinggi, yaitu lebih dari 25 unit, sedangkan metode nefelometrik lebih sensitif dan dapat digunakan untuk segala tingkat kekeruhan. Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap langsung yang terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil daripada sediment, seperti tanah liat, bahan organik tertentu, sel-sel mikroorganisme dan lain sebagainya (Hardjojo dan Djokosetiyanto, 2005). Padatan tersuspensi dan kekeruhan memiliki korelasi
positif yaitu semakin tinggi nilai padatan tersuspensi maka semakin tinggi pula nilai kekeruhan. Akan tetapi, tingginya padatan terlarut tidak selalu diikuti dengan tingginya kekeruhan. Air laut memiliki nilai padatan terlarut yang tinggi, tetapi tidak berarti kekeruhannya tinggi pula (Effendi, 2003). Padatan tersuspensi perairan yang baik untuk usaha budidaya perikanan laut adalah 5 – 25 mg/l (KLH, 2004).
Padatan tersuspensi menciptakan resiko tinggi terhadap kehidupan dalam air pada aliran air yang menerima tailings di kawasan dataran rendah. Dalam daftar berikut ini, dapat dilihat bahwa padatan tersuspensi dalam jumlah yang berlebih (diukur sebagai total suspended solids – TSS) memiliki dampak langsung yang berbahaya terhadap kehidupan dan bisa mengakibatkan kerusakan ekologis yang signifikan melalui beberapa mekanisme berikut ini: 1) Abrasi langsung terhadap insang binatang air atau jaringan tipis dari tumbuhan air; 2) Penyumbatan insang ikan atau selaput pernapasan lainnya; 3) Menghambat tumbuhnya/smothering telur atau kurangnya asupan oksigen karena terlapisi oleh padatan; 4) Gangguan terhadap proses makan, termasuk proses mencari mangsa dan menyeleksi makanan (terutama bagi predation dan filter feeding; 5) Gangguan terhadap proses fotosintesis oleh ganggang atau rumput air karena padatan menghalangi sinar yang masuk; 6) Perubahan integritas habitat akibat perubahan ukuran partikel.
2.2 Pasang Surut
1.      Pengertian pasang surut
Pasang surut atau di singkat sebagai pasut merupakan salah satu fenomena alam yang tampak nyata di laut, yakni suatu gerakan vertical dari seluruh partikel massa air laut dari pemukaan sampai bagian terdalam dari dasar laut secara periodik yang di sebabkan oleh pengaru gaya tarik antara bumi dan benda-benda angkasa terutam bulan dan matahari. Selanjutnya menginformasikan bahwa pasang surut adalah gerakan naik turunnya air laut.yang terutama di sebabkan adanya gaya tarik menarik dua tenaga yang yang terjadi di lautan yan berasal dari gaya sentrifugal oleh perputaran bumi pada porosnya dan gaya grafitasi bumi
2.      Faktor Penyebab Terjadinya Pasut
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori kesetimbangan adalah rotasi bumi pada suhunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis adalah kedalaman dan luas perairan, rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga terdapat beberapa factor local yang dapat mempengaruhi pasut di suatu perairan seperti, topografi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya. Sehingga berbagai lokasi memilki ciki cirri pasut yang berlainan.
Bulan dan matahari keduanya memberikan gaya grafitasi tarikan terhadap bumi yang besarnya tergantung pada besarnya masa benda yang saling terik menarik tersebut. bulan memberikan gaya tarik (grafitasi) yang lebih besar di banding matahari. Hal ini disebabkan karena walaupun masa bulan lebih kecil dari matahari, tetapi posisinya lebih dekat ke bumi gaya-gaya ini mengakibatkan air laut yan menysun 71% permukaan bumi, menggelembung pada sumbuh yang menghadap ke bulan. Apsang surut terbentuk karena rotasi bumi yang berada dibawa muka air yang menggelembung ini, yang mengakibatkan kenaikan dan penurunan permukaan laut di wilaya pesisir secara periode. Gaya tarik grafitasi matahari juga memiliki efek yang sama namun dengan derajat yang lebih kecil. Daerah-daerah pesisir mengalami du kali pasang dan dua kali surut selam periode sedikit selama 24 jam.
Ada dua macam pasang surut :
1.      Pasang Purnama, ialah peristiwa terjadinya pasang naik dan pasang surut tertinggi (besar). Pasang besar terjadi pada tanggal 1 (berdasarkan kalender bulan)dan pada tanggal 14 (saat bulan purnama). Pada kedua tanggal tersebut posisi bumi-bulan-matahari berada pada satu garis (konjungsi) sehingga kekuatan gaya tarik bulan dan matahari berkumpul menjadi satu menarik permukaan bumi. Permukaan bumi yang menghadap ke bulan mengalami pasang naik besar.

2.      Pasang Perbani, ialah peristiwa terjadinya pasang naik dan pasang surut terendah (kecil). Pasang kecil ini terjadi pada tanggal 7 dan 21 kalender bulan. Pada kedua tanggal tersebut posisi matahari – bulan – bumi membentuk susut 90 °. Gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi berlawanan arah sehingga kekuatannya menjadi berkurang (saling melemahkan) dan terjadilah pasang terendah.
3.      Tipe pasut
Pasang surut memiliki beberapa unsur yang dikenal dengan karakteristik pasang surut yang meliputi ATT ( air tinggi tertinggi), ART ( air rendah terendah) tunggang air, dan konstanta-konstanta pasang surut yang berperan dalam penentuan tipe pasang surut yang dikenal dengan bilangan formzahl
Dilihat dari pola gerakan muka lautnya, tipe pasang surut` di Indonesia dibedakan atas 4(empat) tipe yaitu:
1.      Pasang surut harian ganda (semi diurnal tide) yaitu tipe pasang yang mana dalam sehari terdi pasang surut dan dua kali surut dengan tinggi puncak yang hamper sama.
2.      Pasang surut harian tunggal (diurnal tide), yaitu tipe pasut dimana dalam sehari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut
3.      Pasang surut campuran yang condong ke harian ganda (mixed tide,prevailing `semidiurnal), dan
4.      Pasang surut campuran yang condong ke harian tunggal (mixed tide,prevailing diurnal).


2.3 Arus
Arus adalah proses pergerakan massa air menuju kesetimbangan yang menyebabkan perpindahan horizontal dan vertical massa air. Gerakan tersebut merupakan resultan dari beberapa gaya yang bekerja dan beberapa factor yang memepengaruhinya. Sedangkan arus laut (sea curent) adalah gerakan mengalirnya massa air laut dari satu tempat lain baik secara vertical ( gerak ke atas ) maupun secara horizontal ( gerakan ke samping ).
1.      Penyebab terjadinya arus
Arus laut dapat disebabkan oleh beberapa factor, seperti gaya pasut, angin, perbedaan suhu, salintasdan tekanan air laut, serta bentuk topografi dasar laut.  Meskipun demikian, factor-faktor tersebut bervariasi te3rhadap lokasi dan kedalaman perairan.
Pond dan pickard 1983 mengklasifikasikan gerakan massa air berdasarkan penyebabnya, terbagi atas :
a.      Gerakan dorongan angin
Angin adalah factor yang membangkitkan arus, arus yang ditimbulkan oleh angin mempunyai kecepatan yang berbeda menurut kedalaman. Kecepatan arus yang dibangkitkan oleh angin memeliki perbahan yang kecil seiring pertambahan kedalaman hinga tidak berpengaruh sama sekali
b.      Gerakan termohalin
Yaitu suatu pergerakan massa air yang disebabkan oleh adanya perbedaan densitas. Perubahan densitas timbul karena adanya perubahan suhu dan salintas antara 2. massa air. Massa air yang densitasnya tinggi akan tengelam dan menyebar dibawah permukaan air sebagai arus dalam dan sirkulasinya disebut arus termohalin.
c.       Arus Pasut
Arus yang di sebapkan oleh daya tarik menarik bumi dan benda-benda angkasa. arus pasut ini merupakan arus yang geraknya horizontal.
d.      Turbulensi
Suwatu gerakan yang terjadi pada lapisan atas air dan terjadi karna adanya gaya gesekan antara gesekan

e.       Tsunami
Sering di sebut sebagai gelombang seismic yang di hasilkan dari pergeseran dasar laut sat terjadi gempah.
2.4. Pengertian gelombang laut
Gelombang yang terbentuk di permukaan laut pada umunya terbentuk karena adanya proses alih energi dari angin kepermukaan laut (Nontji, 1993). Gelombang laut adalah gerakan dari setiap partikel air laut yang berupa gerak longitudinal dan orbital secara bersamaan (vibrasi) yang di sebapkan oleh transmisi energy serta waktu (momentum). Hutabart dan Evans (1985) bahwa gelombang adalah perpindahan molekul air laut dengan frekuwensi yang cepat/besar maupun lambat/kecil dalam gerakan mengorbit
Pada daera pantai umunya di namika perairan yang didominasi oleh pergerakan gelombang (Mc. Lelang, 1965). Pergerakan gelombang ketika mencapai daerah pantai akan mengalami perubahan sebagai akibat interaksinya dengan dasar peraira. Perubahan tersebu secara vartikel berbeda akibat kecepatan orbital gelombang mengalami reduksi terhadap fungsi kedalaman serta akibat kecepatan geser (shear).
1.      Penyebap Terjadinya Gelombang
Triatmodjo (1999) mengemukakan bahwa gelombang tersebut meliputi gelombang angin yang di bangkitkan oleh tiupan angi di permukaan laut, gelombang pasang surut yaitu yang di bangkitkan oleh gaya terik bendah-bendah langit terutama matahari dan bulan terhadap bumi, gelombang tsunami terjadi karna letusan gunung berapi atau gempah di laut, gerlombang yang di bangkitkan oleh kapal yang bergerak, dan sebagainya.
2.      Parameter Gelombang Laut
Ilahude (1999) menyatakan bahwa dalam mempelajari gelombang terdapat beberapa istilah penting yang perluh di ketahui lebih dahuluh. Pengetahuan tersebut agar menghindari kesalahan persepsi dalam mengenali cirri-ciri gelombang. Adapun istilah-istilah yang berkenaan dengan parameter gelombang antara lain (gambar 1) :
1.       tinggi gelombang (H): Selisi antara puncak dan lembah gelombang dengan satuan meter (m.
2.       amplitudo gelombang (A): jarak setengah (1/2) dari tingi gelombang biasanya dinyatakan dalam satuan meter (m).
3.      Periode gelombang (T): waktu yang di perlukan oleh dua puncak gelombang untuk belewati suwatu titik tertentu (titik pengamatan) dengan satuan detik (s)
4.      Panjang gelombang (λ baca lamda) : jarak mendatar antara dua puncak atau lembah gelombang dengang satuan meter (m).
5.      Kecepatan gelombang (C) : yaitu jarak yang di tempuh oleh puncak gelombang dalam satu satuan waktu. Kecepatan ini mempunyai satuan meter/detik (m/s).
6.      Vrekuwensi gelombang (f) : jumlah gelombang yang melewati satu titik pengamatan pada priode waktu tertentu.
3.      Klasifikasi Gelombang
Secara garis besar gelombang dapat diklasifikasikan di dalam beberapa bagian Rahardjo (1997) Mengklasifikasikan gelombang menjadi 4 (empat) bagian , antaralan:
1)      Klasifikasikan berdasarkan perbandingan kedalaman perairan dan panjang gelombang, terbagi atas beberapa bagian:
ü Gelombang perairan dangkal
ü Gelombang perairan dalam
ü Gelombang transisi
2)      Klasifikasi berdasarkan pengaruh gaya pembangkit
3)      Klasifikasi berdasarkan pengaruh gaya pengembali
4)      Klasifikasi berdasarkan prioda panjang
Berdasarkan periodenya, gelombang dapat di klasifikasikan seperti yang di perlihatkan pada table (1)



Table .1 Klasifikasi gelombang berdasarkan priodienya
Priode
Panjang Gelombang
Nama
0-0,2
0,02-9,0
9 – 15
15 – 30
0,5 menit-jam

12,5 ; 25 jam
cm
<130 m
Ratusan meter
Beberapa ratusan meter
<ribuan km

Ribuan km
Ripples
Wind waves
Swell
Longswell
Long periode waves & tsunami
Pasang surut















III. METODOLOGI PRAKTEK

3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktek lapangan ini dilaksanakan di pantai kelurahan Falajawa 1 (Swering) kota Ternate pada tanggal 26  November 2011.
3.2  Alat dan Bahan
3.2.1 Pasang surut
No
Alat dan bahan
Kegunaan
1
Tide staff ( palem pasut )
Untuk mengetahui tinggi muka air
2
Senter
Penerangan di malam hari
3
Tiang penahan
Untuk mendapatkan nilai pasang surut

3.2.2        Pengamatan Arus
No
Alat dan bahan
Kegunaan
1
Layangan arus (Current drouge)
Menentukan kecepatan arus
2
Stopwath
Mengukur waktu
3
Compas
Menentukan arah
4
Wahana apung (perahu)
Transportasi
5
Tali
Menentukan jarak



3.2.3 Gelombang
No
Alat dan bahan
Kegunaan
1
Senter
Penerangan
2
Tiang penahan
Pengukuran tinggi gelombang
3
Stopwath
Mengetahui kecepatan gelombang
4
Compas
Untuk menentukan arah

3.3 Cara Kerja
3.3.1. Pasut
Secara umum kegiatan praktek lapangan ini meliputibeberapa tahapan yang penting untuk diketahui. Adapun tahapan tersebut melipiti:
1.      Penempatan Dan Pemasangan Alat Ukur
Dalam menempatkan alat harus memperhatikan beberapa syarat pemasangan papan pasut yaitu:
1.      Saat pasang tertinggi, alat ukur tidak terendam air dan pada surut terendam masih tergenang oleh air. Untuk itu, pemasangan alat ukur ini dilakukan pada saat surut terendah.
2.      Jangan di pasang pada gelombang pecah karena akan menimbulkan bias dan dan atau pada daerah aliran sungai.
3.      Jangan di pasang didaerah dekat kapal bersandar atau aktifitas yang menyebabkan air bergerak secara tidak teratur.
4.      Dipasang pada daerah yang terlindung dan pada tempat yang muda untuk diamati dan di pasang tegak lurus.
5.      Cari tempat yang mudah untuk pemasangan misalnya dermaga sehingga papan mudah dikaitkan.
6.      Dekat d`engan benc mark atau titik referensi lain yang ada sehingga data pasang surut muda untuk dikaitkan terhadap titik referensi.
7.      Tanah dalam dasar laut tempat didirikan papan harus stabil.
8.      Tempat didirikannya papan harus dibuat pengaman dari arus dan sampah.
3.3.2. Arus
Pada dasarnya, pengukuran arus dapat di lakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. ada 2 metode pendekatan dalam melakukan pengukuran arus secara langsung, yaitu:
·         Metode Langrrarian: suatu metode yang mengunakan benda-benda yang terapung di dalam air, di mana kecepatan di peroleh dengan menghitung jarak tempuhnya persatuan waktu tertentu. sedangkan arah di tentukan dengan kompas
·         Metode Eularian: pengukuran arus yang dilakukan pada suatu titik stasiun tetap. alat yang biasa di gunakan: current meter, sistem mooring.
dalam kegiatan praktikum ini, pengukuran arus di lakukan dengan mengunakan metode eularian (stasiu/ titik tetap). dengan mengunakan alat sederhana yaitu current drouge (layangan arus). prinsip kerja pengukuran:
·         Alat ini di ikatkan dengan tali yang panjangnya sekitar 5 meter sebagai fungi jarak
·         Alat ini kemudian di lepas/di hanyutkan, dan secara bersamaan sat alat tersebut di hanyutkan, maka penghitungan waktu (stopwatch) dijalanklan.
·         Setelah alat ini bergerak hinga tali yang panjangnya 5 meter tadi meregang, maka stopwatch di matikan dan di catat waktunya (fungsi T),
·         Dengan prosedur yang sama, pengamatan arus ini dilakukan sebanyak 3 kali ulanngan pada setiap jam pengamatan.
·         Dengan mengunakan rumus sederhana, maka kecepatan arus dapat di hitung dengan persamaan V=S/t.
·         Arus yang di tentukan dengan mengunakan kompas, yaitu dengan membidik arh pergerakan alat.
3.3.3. Gelombang
1.      Tingi gelombang
Pengukuran tingi gelombang di lakukan dengan mengunakan papan berskala (tiang ukur pasut saja).pengamatan di lakukan di lakukan secara fiswal saat gelombang dating, di mana tinggi gelombang. Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali ulangan.
2.      Periode gelombang
Pengukuran priode gelombang di lakukan dengan mengunakan stopwatch. Periode gelombang di peroleh dengan menghitung waktu yang di perlukan oleh dua puncak gelombang secara berturut-turut yang melewati satu titik. Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali ulangan.
3.      Frekuensi gelombang
Frekuensi gelombang diukur dengan mengunakan stopwatch, di mana nilainya diperoleh dengan melihat berapa banyak jumlah gelombang yang dating/mencapai satu titik dalam satu waktu tertentu (dalam praktikum ini selama 1 menit). Pengamatan di lakukan sebanyak 3 kali ulangan
4.      Arah dating gelombang
Arah gelombang diukur dengan menggunakan kompas, dimana nilainya diperoleh dengan membidik puncak gelombang yang merambat kea rah pantai kemudian baca skala yang tertera pada kompas.














 IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.        Deskripsi Lokasi
Kegiatan praktek lapangan ini dilaksanakan di pantai kelurahan Falajawa 1 (Swering) kota Ternate, terletak di bagian depan mesjid Muhajirin Swering Kota Ternate dan samping jembatan Residen. Adapun batasan wilayah praktikum sebagai berikut :
Sebelah Utara berbatasan dengan Tapak dua
Sebelah Barat berbatasan dengan ruko dan rumah penduduk serta perkantoran
Sebelah Selatan berbatasan dengan pelabuhan Ahmad Yani dan
Sebelah Timur adalah laut bebas dan pulau Halmahera
4.2.             Kondisi umum perairan
Kondisi perairan merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam menilai baik buruknya suatu perairan, dari hasil penelitian selama 24 jam diperoleh rata-rata temperatur adalah 29.6 – 30.1 ºC, Salinitas 0.30 – 3.56 ‰, Oksigen terlarut (DO) 3.10 – 3.87 mg/l, Conductivity 53.0 – 63.8 Ms/cm, Turbidity 1.66 – 30 dan pH 7.64 – 8.02. (Lampiran 1)
Kisaran harga temperatur di laut adalah -2o s.d. 35oC. Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,5o - 40oLU atau 23,5o - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan). Asmawi (1983) menyatakan O 2 terlarut yang baik adalah 5–10 mg/l, CO 2 bebas tidak lebih dari 12 mg/l dan terendah 2 mg/l serta NH 3 yang baik adalah kurang dari 1 mg/l. Pada kadar NH 3 0,053-0,280 mg/l kondisi larva udang masih cukup baik, untuk faktor yang paling dominan dalam perubahan konduktivitas di laut adalah temperature, sedangkan Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif lebih stabil dan berada dalam kisaran yang sempit, biasanya berkisar antara 7,7 – 8,4. pH dipengaruhi oleh kapasitas penyangga (buffer) yaitu adanya garam-garam karbonat dan bikarbonat yang dikandungnya (Boyd, 1982; Nybakken, 1992)
Table Parameter kualitas Air
No
Jam
PARAMETER KUALITAS AIR
Temperatur (°c)
Salinitas (‰)
DO (mg/l)
Conductivity (Ms/cm)
Turbidity
pH
1
07.00
-
-
-
-
-
-
2
08.00
29.7
0.349
3.30
-
-
7.95
3
09.00
-
0.308
3.10
-
-
-
4
10.00
30.7
0.350
3.45
53.3
30
8.02
5
11.00
31.2
0.352
3.54
53.3
28
7.98
6
12.00
31.5
0.349
3.60
52.8
30
7.87
7
13.00
30.6
0.356
4.62
63.8
6
7.98
8
14.00
30.5
0.350
4.40
53.0
7
7.84
9
15.00
30.4
0.354
4.21
53.5
5
7.68
10
16.00
29.6
3.56
4.66
53.5
9
7.74
11
17.00
30.0
3.53
3.70
53.8
1.66
7.76
12
18.00
30.1
3.53
3.87
53.4
2.33
7.78

4.3.       Pasang Surut
a.       Mean sea Level (MSL)
Muka laut rata-rata berdaasarkan hasil pengamatan dari 24 data dengan total data pengamatan tinggi air 2019 maka diperoleh nilai MSL adalah 84.125
b.      Air Tinggi (AT)
Dari data yang diperoleh Kedudukan paras muka laut yang tertinggi sewaktu mengalami pasang naik adalah 175 cm yang terjadi pada jam 18.00 WIT.
c.       Air Rendah (AR)
Dari data yang diperoleh kedudukan paras muka laut terendah saat mengalami surut adalah 20 cm terjadi pada jam 01.00 WIT.
d.      Tunggangair
Untuk kisaran pasut yang diperoleh dari data yang diperoleh yaitu 175 – 20 cm adalah 155 cm
e.       Tipe pasut
Dari grafik dibawah ini dapat dilihat bahwa terjadi dua kali pasang dan surut dengan tinggi yang berbeda, maka tipe pasutnya adalah semi diurnal yang condong ke harian ganda.
Gambar grafik pasut
4.4.       Arus
Arus laut (sea current) adalah gerakan massa air laut dari satu tempat ke tempat lain baik secara vertikal (gerak ke atas) maupun secara horizontal (gerakan ke samping). Dari hasil diperoleh kecepatan rata-rata arus adalah 0.294 m/s
 Contoh-contoh gerakan itu seperti gaya coriolis, yaitu gaya yang membelok arah arus dari tenaga rotasi bumi. Pembelokan itu akan mengarah ke kanan di belahan bumi utara dan mangarah ke kiri di belahan bumi selatan. Gaya ini yang mengakibatkan adanya aliran gyre yang searah jarum jam (ke kanan) pada belahan bumi utara dan berlawanan dengan arah jarum jam di belahan bumi selatan. Perubahan arah arus dari pengaruh angin ke pengaruh gaya coriolis dikenal dengan spiral ekman. Menurut letaknya arus dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus bawah.
Arus atas adalah arus yang bergerak di permukaan laut. Sedangkan arus bawah adalah arus yang bergerak di bawah permukaan laut.

4.5.       Gelombang
Gelombang laut atau ombak merupakan gerakan air laut yang paling umum dan mudah kita amati. Helmholts menerangkan prinsip dasar terjadinya gelombang laut sebagai berikut : “Jika ada dua massa benda yang berbeda kerapatannya (densitasnya) bergesekan satu sama lain, maka pada bidang gerakannya akan terbentuk gelombang”.
Dari data yang diperoleh rata-rata banyak gelombang yang datang sebanyak 42 kali dari 60 detik. Dengan arah 82º- 130º.
Gerakan permukaan gelombang dapat dikelompokan sebagai berikut:
1.      Gerak osilasi, yaitu gerak gelombang akibat molekul air bergerak melingkar. Gerak osilasi biasanya terjadi di laut lepas, yaitu pada bagian laut dalam. Adanya gelombang dibangkitkan oleh kecepatan angin, lamanya angin bertiup, luas daerah yang ditiup angin (fetch), dan kedalaman laut. Gelombang ini memiliki tinggi dan lembah gelombang. Puncak gelombang akan pecah di dekat pantai yang disebut breaker atau gelora.
2.       Gerak translasi, yaitu gelombang osilasi yang telah pecah lalu seperti memburu garis pantai, bergerak searah dengan gerak gelombang tanpa diimbangi gerakan mundur. Gelombang ini tidak memiliki puncak dan lembah yang kemucian dikenal dengan istilah surf. Gelombang ini dimanfaatkan untuk olah raga surfing.
3.      Gerak swash dan back swash berbentuk gelombang telah menyentuh garis pantai. Kedatangan gelombang disebut swash, sedangkan ketika kembali disebut back swash.










V. KESIMPULAN
5.1.        Kesimpulan
Dari hasil yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Parameter fisika kimia yang berada di lokasi penelitian masih berada dalam kondisi yang normal.
2.      Muka laut rata-rata berdaasarkan hasil pengamatan dari 24 data dengan total data pengamatan tinggi air 2019 maka diperoleh nilai MSL adalah 84.125, Air Tinggi (AT) adalah 175 cm, Rendah (AR) adalah 20 cm ,Tunggangair adalah 155 cm dan Tipe pasut terjadi dua kali pasang dan surut dengan tinggi yang berbeda, maka tipe pasutnya adalah semi diurnal yang condong ke harian ganda.
3.      Kecepatan rata-rata arus selama penelitian adalah 0.294 m/s dan
4.      Rata-rata banyak gelombang yang datang sebanyak 42 kali dari 60 detik. Dengan arah 82º- 130º.

5.2.        Saran
Berdasarkan kesimpullan di atas, maka penulis menyarankan agar praktikum ini perlu penting untuk na di laksanakan, guna agar mahasiswa dapat mengetahui mata muliah pengantar oseonografi secara mendalam.





DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Yani dkk, Geografi untuk SMA kelas 1, Bandung, Grafindo, 2004
K. Wardijatmoko, Geografi SMA Kelas X, Jakarta, Erlangga, 2004
TIM Geografi DKI Jakarta, Geografi Regional SMA 1, Jakarta, Erlangga, 1994
Nginstall NetCDF Toolbox, 2005, awal kehidupan bermula di laut oseanografi.blogspot.com














DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pengukuran Parameter Kualitas Air
NO
JAM
PARAMETER KUALITAS AIR
Temperatur (°c)
Salinitas (‰)
DO (mg/l)
Conductivity (Ms/cm)
Turbidity
pH
1
07.00
-
-
-
-
-
-
2
08.00
29.7
0.349
3.30
-
-
7.95
3
09.00
-
0.308
3.10
-
-
-
4
10.00
30.7
0.350
3.45
53.3
30
8.02
5
11.00
31.2
0.352
3.54
53.3
28
7.98
6
12.00
31.5
0.349
3.60
52.8
30
7.87
7
13.00
30.6
0.356
4.62
63.8
6
7.98
8
14.00
30.5
0.350
4.40
53.0
7
7.84
9
15.00
30.4
0.354
4.21
53.5
5
7.68
10
16.00
29.6
3.56
4.66
53.5
9
7.74
11
17.00
30.0
3.53
3.70
53.8
1.66
7.76
12
18.00
30.1
3.53
3.87
53.4
2.33
7.78














Lampiran 2 hasil pengamatan pasang surut
NO
JAM
TINGGI AIR (cm)
KETERANGAN
1
00.00
25
Pasang
2
01.00
20
Surut
3
02.00
25
Pasang
4
03.00
35
Pasang
5
04.00
60
Pasang
6
05.00
75
Pasang
7
06.00
90
Pasang
8
07.00
103
Pasang
9
08.00
95
Surut
10
09.00
75
Surut
11
10.00
60
Surut
12
11.00
45
Surut
13
12.00
38
Surut
14
13.00
56
Pasang
15
14.00
67
Pasang
16
15.00
90
Pasang
17
16.00
125
Pasang
18
17.00
165
Pasang
19
18.00
170
Pasang
20
19.00
175
Pasang
21
20.00
155
Surut
22
21.00
130
Surut
23
22.00
85
Surut
24
23.00
55
Surut








Lampiran 3 Pengamatan arus
NO
Jam
PERGERAKAN ARUS
ARAH
Jarak (s)
Waktu (t)
Kecepatan (v)
1
07.00
-
-
-
-
2
08.00
-
-
-
-
3
09.00
-
-
-
-
4
10.00
-
-
-
-
5
11.00
-
-
-
-
6
12.00
5 m
23.91 detik
0.209  m/s
140°
7
13.00
5 m
93 detik
0,054 m/s
180°
8
14.00
5 m
53 detik
0,094 m/s
220°
9
15.00
5 m
41 detik
0,122 m/s
240°
10
16.00
5 m
20.44 detik
0.245 m/s
163°
11
17.00
5 m
12.61 detik
0.397 m/s
153°
12
18.00
5 m
15.28 detik
0.327 m/s
153°















Lampiran 4 Pengamatan gelombang
NO
JAM
PARAMETER GELOMBANG
PERIODE
FREKUENSI
ARAH
PUNCAK
LEMBAH
TINGGI
WAKTU
BANYAK GELOMBANG
1
07.00
115 cm
-
-
-
60 detik
10
-
2
08.00
100 cm
-
-
-
60 detik
28
-
3
09.00
80 cm
-
-
-
60 detik
16
-
4
10.00
65 cm
56 cm
9 cm
4.70 detik
60 detik
34

5
11.00
50 cm
40 cm
10 cm
3.30 detik
60 detik
37

6
12.00
40 cm
35 cm
5 cm
3.19 detik
60 detik
25

7
13.00
53,5 cm
47 cm
6,5 cm
10,36 detik
60 detik
37
130°
8
14.00
175 cm
170 cm
5 cm
1,78 detik
60 detik
68
83°
9
15.00
100 cm
96 cm
4 cm
2,12 detik
60 detik
62
82°
10
16.00
150 cm
145 cm
5 cm
10.14 detik
60 detik
52
120°
11
17.00
165 cm
160 cm
5 cm
08.79 detik
60 detik
65
130°
12
18.00
190 cm
185 cm
5 cm
13.0 detik
60 detik
70
120°














Lampiran 5. Dokumentasi
Pengambilan pengukuran kualitas air
Pengamatan pasang surut
Pengamatan gelombang